Pages

Thursday, 18 February 2016

ANALISIS TASHBIH DAN MAJAZ DALAM AL-QUR’AN JUZ PERTAMA



A.    QS, al-Fatihah: 6-7

 
Artinya: Tunjukilah kami kejalan yang lurus, (yaitu) Jalannya orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.

Penjelasan:
Pada ayat الدىن diserupakan dengan “jalan yanglurus”. Lafal penyerupaan pada ayat tersebut tidak ditampilkan secara eksplisit (tersurat) yang seandainya ditampakkan akan terbaca:
الدىن  كاالصر لط المستقيم
“agama itu laksana jalan yang lurus”. Dikatakan Tashriqiyah, “jelas” karena hal tersebut sudah dapat dipahami secara jelas dalam percakapan.[1] Dengan kata lain ayat ini mengandung Majaz Isti’arah atau majaz yang tidak mewujudkan unsur Musyabbah. Qarinah dari lafad adalah bahwa Allah SWT tidak akan mungkin menunjukkan    الصراط ‘jalan’secara indrawi  berupa jalan secara indrawi berupa jalan yang dilalui oleh setaapak kaki manusia. Karena itu, yang dimaksud tentunya  petunjuk menuju agama yang lurus dan benar.
B.     QS, al-Baqarah: 07
Artinya: Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang Amat berat.
Penjelasan:
Mengandung majaz Isti’arah Makniyah, Musabbah: Quluubihim, ‘Alaqah atau hubungan antara makna yang sesungguhnya dengan majaz pada ayat diatas adalah Khotama (mengunci). Lafad tersebut dimaknai sebagai tidak mendapatkan hidayah Allah. Qorinah atau lafat yang mencegah mufassir tidak boleh memaknai ke makna yang ashli Quluubihim wa’Alaa Abshorihim.
Maksud dari mereka yang disebut sebelum ayat ini hatinya akan ditutup dan tidak akan bisa menerima atau membaca tanda-tanda kebesaran yang telah diciptakan oleh Allah SWT.
Kata Khatama biasa digunakan untuk menyatakan kegiatan menutup rapat sehingga sesuatu  tidak dapat masuk atau keluar. Hamka menjelaskan klausa Khatma Allahu ‘ala qulubihim wa’ala abshoorihim dengan mengibaratkannya sebagai rumah yang disegel maka dalam pengkhiasan tersebut tidak perlu dikemukakan perbandingannya, sehingga tidak terbatas pada objek tertentu.[2]
C.    QS. al-Baqarah 16
16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
Didalamayat ke-16 dikemukakan bahwa mereka membeli kesesatan dengan bimbingan, . Ayat itu merupakan kiasan dari sikap orang munafik yang meninggalkan bimbingan yang terdapat dalam kitab sucinya demi mengikuti hawa nafsunya. Dalam ayat tersebut kata isytaraw tidak merujuk kepada kegiatan jual beli ataupun barter dalam arti sebenarnya. Menurut al-Qurtubi, kata tersebut merujuk pada kegiatan mencintai sesuatu dari lainnya, karena pembelian pada dasarnya dilakukan terhadap barang yang dicintai. Dapat juga dikatakan istaraw merupakan lambang kias yang merujuk pada kegiatan mengutamakan sesuatu dengan megorbankan lainnya.
Ayat diats tidak mengemukakan hal yang dibandingkan, yaitu orang yang mengutamakan kekafiran dengan mengorbankan keimanan. Penutur langsung mengemukakan bahwa  mereka adalahh orang yang membeli kesesatan dengan bimbingan. Dengan demikian metafora yang digunakan pada ayat tersebut adalah Istingarah tashiqiyyah.
D.    yQS, al-Baqarah: 18
  
Artinya: (Mereka Itu) Tuli, bisu, buta,sedang mereka tiada kembali
Musyabbah dalam ayat tersebut dibuang, yakni kembali kepada orang-orang munfik sebagaimana telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Andaikata ditampakkan semua, maka susunannya adalah
هم كا صم كا بكم كا عمى فهم لا يرجعون
Sehingga dari pernyataan diatas dapat digaris bawahi bahwasannya ayat tersebut dinamakan Tashbih Muakad.
Mereka tidak  memanfaatkan potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya sehingga mereka tuli tidak mendengar petunjuk, bisu tidak bisa mengucap kalimat haq dan buta tidak bisa melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT untuk digunakan memperoleh petunjuk (mata, telinga, lidah, hati) telah lumpuh, sehingga pada akhirnya mereka tidak dapat kembali insyaf dan menyadari kesesatan mereka. Bagaimana mereka dapat insyaf kalau alat-alat untuk memahami dan menyadari sesuatu yang lumpuh.[3]
E.     QS, al-Baqarah: 65
 
Artinya: Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina".
Penjelasan:
Ayat tersebut mengandung Tasbih Baligh karena langsung menukik tidak ada adat) kamu (manusia) : Musabbah, Kera: Musabbahbih
Hari sabtu adalah hari yang ditetapkan Allah bagi orang-orang Yahudi. Sesuai usulmereka sebagai ibadah yang bebas dari aktifitas duniawi. Mereka dilarang mengail ikan pada hari itu. Tetapi sebagian dari mereka melanggar dengan cara yang licik. Mereka tidak mengail tetapi membendung ikan dengan menggali kolam sehingga air bersama ikan masuk ke kolam itu. Peristiwa ini menurut sementara mufassir terjadi di salah satu desa kota Aylah yang kini yang kini dikenal dengan teluk Aqabah kemudian setelah hari sabtu berlalu mereka mengailnya. Allah murka terhadap mereka. Allah murka terhadap mereka, Maka Allah berfirman  Jadilah engkau kera yang hina dan terkutuk”. Perintah itu bukan perintah (تسخير) Taskhir yakni perintah yang menghasilkan terjadinya sesuatu. Anda ingat firman-Nya “sesungguhnya perintah-Nya apabila dia menghendakki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘jadilah! Maka jadilah’”
F.     QS, al-Baqarah: 74
Artinnya: Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Penjelasan:
Ayat yang dicetak tebal diatas mengandung Tashbih , Musabbah :قلوبكم ,  Musabbahbih, حجارة Adat: كا, Wajhu Sabbih: sulit menerima kebenaran atau nasihat, termasuk majaz Tashrikhiyah karena ayat mengandung Musabbah yakni Quluubukum yang diserupakan Khijaroh (batu). Sedangkan ayat yang bergaris bawah mengandung Majaz Tamsil yakni persamaan yang terdiri dari rentetan sifat atau beberapa sifat atau rentetan suatu peristiwa. Ayat yang bergaris bawah bermakna  jenis-jenis hati yang diserupakan batu dimana setiap hati walaupun keras masih bisa terpecah dengan adanya air. Air dalam arti lain yakni hidayah atau petunjuk Allah.
Sebenarnya kekerasan hati mereka telah menjad jauh sebelm ini. karena ini, kata (ثم) Tsummma/ kemudian disini dipahami banyak ulama bukan dalam arti dalam waktu yang lama. Tetapi ia gunakan untuk meunjukkan bahwa kekerasan hati seharusnya telah sirna setelah peristiwa penghidupan kembali  si terbunuh melalui penyembelahan sapi itu. “sungguh sangat jauh bagi orang-orang yang berakal untuk bersikap keras kepada setelah melihat tanda-tanda kebesaran Allah itu,” demikian tulis asy-Shihap al-Khaffaji sebagaimana  di kutip oleh jamal.[4]
Tetapi orang-orang Yahudi tidak demikian. Hati mereka lebih membatu dan pikiran mereka semakin keraas. Ada diantara manusia yang taat, yang menilainya “Bahkan lebih keraas batu”. Demikian ibarat keadaan hati mereka yang menolak kebenaran. Tidak sedikitpun celah dihati merekaa yang dapat dijadikan pintu masuk hidayah, tidak juga ada celah untuk keluarnya rahmat kasih sayang yang dianugerahkan Allah melalui naluri manusia. berbeda dengan batu yang walau keras dan padat, ada diantaranya yang memiliki celah sehingga air dapat keluar dari celaahnya. Bahkan ada yang demikian besar celahnya sehingga air mengalir disekelilingnya memancar keluar dengan deras. Bukankah “ada batu yang mengalir kesungai-sungai darinya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya”.[5]
G.    QS, al-Baqarah: 101
Artinya: dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah)
Penjelasan:
1. Tashbih
a.       Musabbah             : Orang-orang yang diberi kitab
b.      Musabbah bih       : Orang yang tidak mengetahui
c.       Adat                     :  Kaf
d.      Wajhu Sabah        : mujmal (wajhu sabah tidak ditemukan)
2. Mengandung Majaz,
a.       ‘Alaqah: melemparkan bermakna sebgai penghinaan, meremehkan. ‘alaqahnya Musabahah alasan meleparkan dalam arti sesungguhnya adalah bentuk peremehan terhadap kitab Suci yang telah diberikan kepada umat yahudi.
b.      Qarinah: tersirat. Melempar ke belakang punggung merupakan bentuk penegasan terhadap penghinaan terhadap kitab suci
Firman-Nya: (  ظهوهم وراء ) wara’a dzuhuurihim/ke belakang punggung mereka, dalam hal ini melemparkan sesuatu, bisa kedepan, dan juga bisa ke-belakang. Jika ke-depan, bisa jadi si pelempar masih melihatnya, sehingga terfikir untuk mengambil kembali, dan mengambilnya pun tidak sesulit dari yang melempar ke belakang. Bila dilempar ke belakang, maka ia ditinggal dan tidak terlihat lagi.[6] Mereka yang dimaksud adalah Orang-orang Yahudi yang telah mempunyai keburukan dan kedurhakaan terhadap kitab Allah SWT.
H.    QS, al-Baqarah: 138
Artinya: Shibghah Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah Kami menyembah.

Penjelasan:
Lafadz “Shibghot Allah” lafadz yang menghilangkan unsur Isti’arah Tashriqiyah yang apabila lafadznya tertulislengkap maka akan membentuk lafadz seperti berikut: كا صبغ الله الدين  “Agama seperti celupan Allah”. Sibghah Allah maknanya adalah celupan Allah yang makna sebenarnya adalah agama Allah itu murni dan tidak ada yang  perlu diragukan.
Siapakah yang lebih baik sibghohnya dari pada Allah? Tidak satupun! Celupan-Nya lah yang terbaik! Ada juga yang berpendapat bahwa yang dicelup Allah adalah ummat manusia seluruhnya. Manusia dicelupnya sengan sesuatu yang dicelupnya dengan sesuatu yang melekat pada diri masing-masing, yaitu keyakinantentang wujud dan keesaan Allah SWT.semua manusia memlikinya “setiap yang lahir, lahir aats Fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani dan menjadikan ia Majusi atau Nashrani” (HR. Bukharian Muslim dan lain-lain).[7]


[1] Agus Tricahyono, Metafora dalam al-Qur’an (Melacak Ayat-ayat Metaforis dalam al-Qur’an), (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2009), h. 50
[2] Ibid. h.79
[3] Ibid,. h. 117
[4] M. Quraish Shihab,Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002 ), Cet IX, h.233
[5] Ibid., h.233
[6] M. Quraish Shihab,Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002 ), Cet IX, h.277
[7] Ibid,.  h.339

0 comments:

Post a Comment