A. QS, al-Fatihah: 6-7
Artinya:
Tunjukilah kami kejalan yang lurus, (yaitu) Jalannya orang-orang yang telah
engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.
Penjelasan:
Pada ayat الدىن
diserupakan dengan “jalan yanglurus”. Lafal penyerupaan pada ayat tersebut
tidak ditampilkan secara eksplisit (tersurat) yang seandainya ditampakkan akan
terbaca:
الدىن كاالصر لط المستقيم
“agama
itu laksana jalan yang lurus”. Dikatakan Tashriqiyah, “jelas” karena hal
tersebut sudah dapat dipahami secara jelas dalam percakapan.[1]
Dengan kata lain ayat ini mengandung Majaz Isti’arah atau majaz yang tidak
mewujudkan unsur Musyabbah. Qarinah dari lafad adalah bahwa Allah SWT
tidak akan mungkin menunjukkan الصراط
‘jalan’secara indrawi berupa jalan
secara indrawi berupa jalan yang dilalui oleh setaapak kaki manusia. Karena
itu, yang dimaksud tentunya petunjuk
menuju agama yang lurus dan benar.
B. QS, al-Baqarah: 07
Artinya:
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka
ditutup. dan bagi mereka siksa yang Amat berat.
Penjelasan:
Mengandung majaz Isti’arah
Makniyah, Musabbah: Quluubihim, ‘Alaqah atau hubungan antara
makna yang sesungguhnya dengan majaz pada ayat diatas adalah Khotama (mengunci).
Lafad tersebut dimaknai sebagai tidak mendapatkan hidayah Allah. Qorinah atau
lafat yang mencegah mufassir tidak boleh memaknai ke makna yang ashli Quluubihim
wa’Alaa Abshorihim.
Maksud dari mereka yang
disebut sebelum ayat ini hatinya akan ditutup dan tidak akan bisa menerima atau
membaca tanda-tanda kebesaran yang telah diciptakan oleh Allah SWT.
Kata Khatama biasa
digunakan untuk menyatakan kegiatan menutup rapat sehingga sesuatu tidak dapat masuk atau keluar. Hamka
menjelaskan klausa Khatma Allahu ‘ala qulubihim wa’ala abshoorihim dengan
mengibaratkannya sebagai rumah yang disegel maka dalam pengkhiasan tersebut
tidak perlu dikemukakan perbandingannya, sehingga tidak terbatas pada objek
tertentu.[2]
C. QS. al-Baqarah 16
16.
Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah
beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
Didalamayat
ke-16 dikemukakan bahwa mereka membeli kesesatan dengan bimbingan, . Ayat itu merupakan kiasan dari sikap
orang munafik yang meninggalkan bimbingan yang terdapat dalam kitab sucinya
demi mengikuti hawa nafsunya. Dalam ayat tersebut kata isytaraw tidak
merujuk kepada kegiatan jual beli ataupun barter dalam arti sebenarnya. Menurut
al-Qurtubi, kata tersebut merujuk pada kegiatan mencintai sesuatu dari lainnya,
karena pembelian pada dasarnya dilakukan terhadap barang yang dicintai. Dapat
juga dikatakan istaraw merupakan lambang kias yang merujuk pada kegiatan
mengutamakan sesuatu dengan megorbankan lainnya.
Ayat
diats tidak mengemukakan hal yang dibandingkan, yaitu orang yang mengutamakan
kekafiran dengan mengorbankan keimanan. Penutur langsung mengemukakan
bahwa mereka adalahh orang yang membeli
kesesatan dengan bimbingan. Dengan demikian metafora yang digunakan pada ayat
tersebut adalah Istingarah tashiqiyyah.
D. yQS,
al-Baqarah: 18
Artinya: (Mereka Itu) Tuli, bisu,
buta,sedang mereka tiada kembali
Musyabbah
dalam ayat tersebut dibuang, yakni kembali kepada orang-orang munfik sebagaimana
telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Andaikata ditampakkan semua, maka
susunannya adalah
هم كا صم كا بكم كا عمى فهم لا
يرجعون
Sehingga dari
pernyataan diatas dapat digaris bawahi bahwasannya ayat tersebut dinamakan Tashbih
Muakad.
Mereka tidak memanfaatkan potensi yang dianugerahkan Allah
kepadanya sehingga mereka tuli tidak mendengar petunjuk, bisu tidak
bisa mengucap kalimat haq dan buta tidak bisa melihat tanda-tanda kebesaran
Allah SWT untuk digunakan memperoleh petunjuk (mata, telinga, lidah, hati)
telah lumpuh, sehingga pada akhirnya mereka tidak dapat kembali insyaf
dan menyadari kesesatan mereka. Bagaimana mereka dapat insyaf kalau alat-alat
untuk memahami dan menyadari sesuatu yang lumpuh.[3]
E. QS, al-Baqarah: 65
Artinya:
Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada
hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang
hina".
Penjelasan:
Ayat tersebut
mengandung Tasbih Baligh karena langsung menukik tidak ada adat) kamu (manusia)
: Musabbah, Kera: Musabbahbih
Hari sabtu adalah hari
yang ditetapkan Allah bagi orang-orang Yahudi. Sesuai usulmereka sebagai ibadah
yang bebas dari aktifitas duniawi. Mereka dilarang mengail ikan pada hari itu.
Tetapi sebagian dari mereka melanggar dengan cara yang licik. Mereka tidak
mengail tetapi membendung ikan dengan menggali kolam sehingga air bersama ikan masuk
ke kolam itu. Peristiwa ini menurut sementara mufassir terjadi di salah satu
desa kota Aylah yang kini yang kini dikenal dengan teluk Aqabah kemudian
setelah hari sabtu berlalu mereka mengailnya. Allah murka terhadap mereka.
Allah murka terhadap mereka, Maka Allah berfirman “Jadilah engkau kera yang hina dan
terkutuk”. Perintah itu bukan perintah (تسخير) Taskhir yakni perintah yang menghasilkan terjadinya
sesuatu. Anda ingat firman-Nya “sesungguhnya perintah-Nya apabila dia
menghendakki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘jadilah! Maka jadilah’”
F.
QS, al-Baqarah:
74
Artinnya:
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras
lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai
dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air
dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut
kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Penjelasan:
Ayat yang dicetak tebal
diatas mengandung Tashbih , Musabbah :قلوبكم
, Musabbahbih, حجارة Adat:
كا, Wajhu Sabbih: sulit menerima
kebenaran atau nasihat, termasuk majaz Tashrikhiyah karena ayat mengandung
Musabbah yakni Quluubukum yang diserupakan Khijaroh (batu). Sedangkan ayat yang
bergaris bawah mengandung Majaz Tamsil yakni persamaan yang terdiri dari
rentetan sifat atau beberapa sifat atau rentetan suatu peristiwa. Ayat yang
bergaris bawah bermakna jenis-jenis hati
yang diserupakan batu dimana setiap hati walaupun keras masih bisa terpecah
dengan adanya air. Air dalam arti lain yakni hidayah atau petunjuk Allah.
Sebenarnya kekerasan
hati mereka telah menjad jauh sebelm ini. karena ini, kata (ثم) Tsummma/
kemudian disini dipahami banyak ulama bukan dalam arti dalam waktu yang
lama. Tetapi ia gunakan untuk meunjukkan bahwa kekerasan hati seharusnya telah
sirna setelah peristiwa penghidupan kembali
si terbunuh melalui penyembelahan sapi itu. “sungguh sangat jauh bagi
orang-orang yang berakal untuk bersikap keras kepada setelah melihat
tanda-tanda kebesaran Allah itu,” demikian tulis asy-Shihap al-Khaffaji
sebagaimana di kutip oleh jamal.[4]
Tetapi orang-orang
Yahudi tidak demikian. Hati mereka lebih membatu dan pikiran mereka semakin
keraas. Ada diantara manusia yang taat, yang menilainya “Bahkan lebih keraas
batu”. Demikian ibarat keadaan hati mereka yang menolak kebenaran. Tidak
sedikitpun celah dihati merekaa yang dapat dijadikan pintu masuk hidayah, tidak
juga ada celah untuk keluarnya rahmat kasih sayang yang dianugerahkan Allah
melalui naluri manusia. berbeda dengan batu yang walau keras dan padat, ada
diantaranya yang memiliki celah sehingga air dapat keluar dari celaahnya.
Bahkan ada yang demikian besar celahnya sehingga air mengalir disekelilingnya
memancar keluar dengan deras. Bukankah “ada batu yang mengalir
kesungai-sungai darinya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu
keluarlah mata air darinya”.[5]
G. QS, al-Baqarah: 101
Artinya:
dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan
apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi
kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya,
seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah)
Penjelasan:
1.
Tashbih
a.
Musabbah : Orang-orang yang diberi kitab
b.
Musabbah bih : Orang yang tidak mengetahui
c.
Adat : Kaf
d.
Wajhu Sabah : mujmal (wajhu sabah tidak ditemukan)
2.
Mengandung Majaz,
a. ‘Alaqah:
melemparkan bermakna sebgai penghinaan, meremehkan. ‘alaqahnya Musabahah alasan
meleparkan dalam arti sesungguhnya adalah bentuk peremehan terhadap kitab Suci
yang telah diberikan kepada umat yahudi.
b. Qarinah:
tersirat. Melempar ke belakang punggung merupakan bentuk penegasan terhadap
penghinaan terhadap kitab suci
Firman-Nya: ( ظهوهم وراء
) wara’a dzuhuurihim/ke belakang punggung mereka, dalam hal ini
melemparkan sesuatu, bisa kedepan, dan juga bisa ke-belakang. Jika ke-depan,
bisa jadi si pelempar masih melihatnya, sehingga terfikir untuk mengambil
kembali, dan mengambilnya pun tidak sesulit dari yang melempar ke belakang.
Bila dilempar ke belakang, maka ia ditinggal dan tidak terlihat lagi.[6]
Mereka yang dimaksud adalah Orang-orang Yahudi yang telah mempunyai
keburukan dan kedurhakaan terhadap kitab Allah SWT.
H. QS, al-Baqarah: 138
Artinya:
Shibghah Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan
hanya kepada-Nya-lah Kami menyembah.
Penjelasan:
Lafadz “Shibghot
Allah” lafadz yang menghilangkan unsur Isti’arah Tashriqiyah yang
apabila lafadznya tertulislengkap maka akan membentuk lafadz seperti berikut: كا صبغ الله
الدين “Agama seperti celupan Allah”.
Sibghah Allah maknanya adalah celupan Allah yang makna sebenarnya
adalah agama Allah itu murni dan tidak ada yang
perlu diragukan.
Siapakah yang lebih baik sibghohnya dari pada Allah? Tidak satupun! Celupan-Nya lah yang terbaik! Ada juga
yang berpendapat bahwa yang dicelup Allah adalah ummat manusia seluruhnya.
Manusia dicelupnya sengan sesuatu yang dicelupnya dengan sesuatu yang melekat
pada diri masing-masing, yaitu keyakinantentang wujud dan keesaan Allah
SWT.semua manusia memlikinya “setiap yang lahir, lahir aats Fitrah.
Kedua orang tuanya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani dan menjadikan ia
Majusi atau Nashrani” (HR. Bukharian Muslim dan lain-lain).[7]
[1]
Agus Tricahyono, Metafora
dalam al-Qur’an (Melacak Ayat-ayat Metaforis dalam al-Qur’an), (Ponorogo:
STAIN Ponorogo Press, 2009), h. 50
[2] Ibid. h.79
[3] Ibid,. h. 117
[4] M. Quraish Shihab,Tafsir
al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati,
2002 ), Cet IX, h.233
[5] Ibid., h.233
[6] M. Quraish Shihab,Tafsir
al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati,
2002 ), Cet IX, h.277
[7] Ibid,. h.339






0 comments:
Post a Comment