Efisiensi)
QS. al-A'raf (7) : 31
QS. al-A'raf (7) : 31
Terjemah
31.
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid [534],
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan [535]. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
Tafsir Ayat
Korelasi (hubungan) Ayat dengan Fenomena Ekonomi Kontemporer
- Konsumsi
harus mengedapankan etika dan estetika
- Dalam
konsumsi yang dipentingkan bijak memilih keinginan dan kebutuhan
- Efisensi
dalam konsumsi
- Perilaku
konsuman dalam konsumsi :
- Utility
(manfaat atau kegunaan)
- Satisfaction
(kepuasan)
A.
KONSUMSI DALAM ISLAM
1.
Pengertian dan Tujuan Konsumsi dalam
Islam
Salah satu persoalan penting dalam
kajian ekonomi Islam ialah masalah konsumsi. Konsumsi berperan sebagai
pilar dalam kegiatan ekonomi seseorang (individu), perusahaan maupun negara.
konsumsi secara umum diformulasikan dengan : "Pemakaian dan penggunaan
barang – barang dan jasa, seperti pakaian, makanan, minuman, rumah, peralatan
rumah tangga, kenderaan, alat-alat hiburan, media cetak dan elektronik, jasa
telephon, jasa konsultasi hukum, belajar/ kursus, dsb".
Maka dapat dipahami bahwa konsumsi
sebenarnya tidak identik dengan makan dan minum dalam istilah teknis
sehari-hari; akan tetapi juga meliputi pemanfaatan atau pendayagunaan segala
sesuatu yang dibutuhkan manusia. Namun, karena yang paling penting dan umum
dikenal masyarakat luas tentang aktivitas konsumsi adalah makan dan minum, maka
tidaklah mengherankan jika konsumsi sering diidentikkan dengan makan dan minum.
Tujuan konsumsi dalam Islam adalah
untuk mewujudkan maslahah duniawi dan ukhrawi. Maslahah duniawi ialah
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, minuman, pakaian,
perumahan, kesehatan, pendidikan (akal). Kemaslahatan akhirat ialah
terlaksanaya kewajiban agama seperti shalat dan haji. Artinya, manusia makan
dan minum agar bisa beribadah kepada Allah. Manusia berpakaian untuk menutup
aurat agar bisa shalat, haji, bergaul sosial dan terhindar dari perbuatan mesum
(nasab).
Sebagaimana disebut di atas, banyak
ayat dan hadits yang berbicara tentang konsumsi, di antaranya Surat al A'raf
ayat 31. Ayat ini tidak saja membicarakan konsumsi makanan dan minuman, tetapi
juga pakaian. Bahkan pada ayat selanjutnya (ayat 33) dibicarakan
tentang perhiasan.
2.
Prinsip-prinsip Konsumsi
Dalam ekonomi
Islam konsumsi dikendalikan oleh 5 prinsip dasar sebagai berikut :
A.
Prinsip Keadilan
Syarat ini
mengandung arti ganda yang penting mengenai mencari rezeki secara halal dan
tidak dilarang hukum. Dalam soal makanan dan minuman, ada hal yang terlarang
dicantumkan dalam Al-Qur'an Larangan terakhir berkaitan langsung dengan
membahayakannya moral dan spiritual, Kelonggaran diberikan bagi
orang-orang yang terpaksa, dan bagi orang yang pada suatu ketika tidak
mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh makan makanan yang terlarang itu
sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.
B.
Prinsip Kebersihan
Syarat yang kedua ini tercantum
dalam kitab suci Al-Qur'an maupun Sunnah tentang makanan. Harus baik atau
cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera.
Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam
semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan
bermanfaat.
C.
Prinsip kesederhanaan
Prinsip ini
mengatur perilaku manusia mengenai makanan dan minuman adalah sikap tidak
berlebih-lebihan, yang berarti janganlah makan secara berlebih.
Dalam Al-Qur'an dikatakan :
"…..makan dan minumlah, tetapi
jangan berlebih-lebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan." (QS : Al-A'raaf (7):31)
Arti penting ayat-ayat ini adalah
kenyataan bahwa kurang makan dapat mempengaruhi pembangunan jiwa dan tubuh, demikian
pula bila perut diisi secara berlebih-lebihan tentu akan ada pengaruhnya pada
perut. Praktik memantangkan jenis makanan tertentu dengan tegas tidak
dibolehkan dalam Islam.
D.
Prinsip Kemurahan Hati
Dengan mentaati
perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan dan meminum
makanan halal yang disediakan Tuhan karena kemurahan hati-Nya. Selama maksudnya
adalah untuk kelangsungan hidup dan kesehatan yang lebih baik dengan tujuan
menunaikan perintah Tuhan dengan keimanan yang kuat dalam tuntunan-Nya, dan
perbuatan adil sesuai dengan itu, yang menjamin persesuaian bagi semua
perintah-Nya.
E.
Prinsip Moralitas
Bukan hanya
mengenai makan dan minuman tetapi untuk peningkatan atau kemajuan nilai-nilai
moral dan spiritual. Seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum
makan dan menyatakan terima kasih kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia
akan merasakan kehadiran Ilahi pada waktu memenuhi keinginan-keinginan
fisiknya.
B. Teori konsumsi dalam perspektif konvensional
Dalam ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk
memperoleh kepuasan (utility) dalam kegiatan konsumsinya semata . Utility
secara bahasa berarti berguna, membantu atau menguntungkan.
Menurut Samuelson (2000) konsumsi adalah kegiatan menghabiskan utility (nilai
guna) barang dan jasa. Barang meliputi barang tahan lama dan barang tidak tahan
lama. Barang konsumsi menurut kebutuhannya, yaitu : kebutuhan primer, kebutuhan
sekunder, dan kebutuhan tersier. Teori konsumsi biasa dikatakan pula yaitu
seluruh pengeluaran baik rumah tangga atau masyarakat maupun pemerintah.
Dalam kerangka teori ekonomi konvensional, munculnya ilmu atau perilaku ekonomi
didasarkan kepada jumlah sumber daya (resource) yang
terbatas dengan kebutuhan (needs) yang tidak terbatas. Fenomena
keterbatasan tersebut melahirkan suatu kondisi yang disebut kelangkaan (scarcity).
Munculnya kelangkaan mendorong berbagai permasalahan dalam memilih (problem
of choices) yang harus diselesaikan guna mencapai suatu tujuan yang
dinamakan kesejahteraan (welfare). Menurut sebuah buku digital: Principles
of economics Welfare adalah The study of how the allocation of resources
affects economic well-being diperjelas oleh Case/Fair dalam Principles
of Economics yang mengatakan bahwa kriteria penilaian pencapaian
hasil ekonomi berdasarkan kepada:
a.
Efficiency (allocative efficiency):
menghasilkan apa yang dibutuhkan masyarakat
dengan biaya yang serendah-rendahnya
b.
Equity: fairness (keadilan)
c.
Growth: peningkatan total output dalam
perekonomian
d.
Stability: kondisi output yang tetap atau
meningkat dengan tingkat inflasi rendah dantidak ada sumber daya yang
menganggur.
1. Prinsip Konsumsi Menurut Konvensional
Dalam
ekonomi konvensional tujuan konsumsi ditunjukkan oleh bagaimana
konsumen
berperilaku (consumer behavior). Dalam mempelajari consumer behavior
ada tiga langkah yang dilakukan oleh ekonomi konvensional
(Pyndick):
a. Mempelajari consumer preferences:
mendeskripsikan bagaimana seseorang lebih memilih suatu barang terhadap barang
yang lain. Asumsi dasar dalam konsumsi: Preferences are complete pilihan-pilihan
menyeluruh. Preferences are transitive pilihan-pilihan bersifat
konsisten A>B, B>C, maka A>C. Consumers always prefer more of any
good to less: konsumen selalu memilih sesuatu yang banyak dibandingkan yang
sedikit.
b. Mengetahui keberadaan budget constraint (keterbatasan
anggaran/sumber daya).
c. Menggabungkan antara consumer preferences dan budget
constraint untuk menentukan pilihan konsumen atau dengan kata lain
kombinasi barang apa saja yang akan dibeli untuk memenuhi kepuasannya.
Manusia termasuk makhluk
multidimensi, yaitu makhluk yang di dalam dirinya terdapat berbagai aspek yang
cenderung menggerakkan manusia untuk berbuat, bertindak dan membutuhkan
sesuatu. Sehingga manusia terdorong untuk melakukan sesuatu guna memenuhi
kebutuhannya.
Telah dijelaskan dalam ekonomi konvensional,
bahwa perilaku konsumsi mencakup kegiatan kegiatan yang dilakukan manusia untuk
memenuhi kebutuhan baik jasmani maupun rohani guna mencukupi kelangsungan
hidup. Perilaku konsumsi individu berbeda beda, perbedaan tersebut disebabkan
adanya perbedaan pendapat dan latar belakang, Dalam perspektif ekonomi
konvensional dikatakan lebih banyak selalu lebih baik.






0 comments:
Post a Comment